Kata Ekologi berasal dari Yunani. Oikos artinya rumah sedangkan logos artinya ilmu atau pengetahuan. Secara kasar EKOLOGI dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang tempat dimana kita tinggal. Kata 'kita' yang dimaksud di sini adalah kita sebagai makhluk hidup secara kolektif. Bukan hanya manusia. Namun juga semua makhluk hidup yang tinggal di bumi.
Organisasi kehidupan terdiri dari
ORGANISME: yaitu spesies makhluk hidup. Misalnya ikan.
POPULASI: sekumpulan organisme yang sama yang hidup dalam satu wilayah dalam satu waktu. Contohnya ikan-ikan yang hidup dalam satu danau.
KOMUNITAS: sebuah komunitas bilogi adalah kumpulan dari beberapa jenis populasi yang hidup dalam satu area. Misalnya dalam danau ada ikan, katak, tanaman, nyamuk dan sebagainya.
EKOSISTEM: terbentuknya satu sistem yang terdiri dari interaksi semua organisme (biotik) dan faktor abiotik dalam area tersebut. Faktor Abiotik adalah non makhluk hidup seperti batu, tanah, pasir, matahari, air, cuara dan sebagainya.
BIOSFIR: planet bumi tempat berbagai macam ekosistem berada
Menjaga keberlangsungan dan keseimbangan ekosistem sangatlah penting. Jika salah satu faktor dalam ekosistem tidak dijaga makan akan berpengaruh terhadap keseimbangannya. Hal ini bisa berdampak pada keberlangsungan dari ekosistem lainnya. Pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap kehidupan di bumi, karena pada dasarnya semua ekosistem saling berhubungan.
Menurut Undang-undang no 24/ 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, definisi Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
Kejadian-kejadian tersebut pastinya adalah kejadian yang mengakibatkan perubahan lingkungan. Misalnya tsunami mengakibatkan pergerakan pada tanah yang dapat mengakibatkan berpindahnya satu ekosistem. Contohnya organisme-organisme laut yang terbawa oleh gelombang air laut ke daratan. Kebakaran hutan di Australia ditengarai mengakibatkan musnahnya habitat hewan-hewan asli Australia seperti kanguru, koala, reptil dan lainnya. University of Sydney memperkirakan hampir 500 juta mamalia, burung dan reptil mati.
Melihat dampak lingkungan yang disebabkan oleh bencana alam sangatlah mudah. Namun pertanyaannya adalah apakah bencana alam sudah terbukti juga disebabkan oleh perubahan iklim (climate change) karena pemanasan global (global warming) yang pada sumbernya disebabkan oleh perilaku manusia ataukah bencana alam benar-benar disebabkan oleh alam itu sendiri dengan atau tanpa turut campur manusia.
KORELASI PERUBAHAN IKLIM TERHADAP BENCANA ALAM
Hal ini menjadi perdebatan antara pendukung dan penolak teori tersebut. Sebenarnya tanpa campur tangan manusia, cuaca ekstrim dan bencana selalu ada dan akan selalu ada. Namun perubahan iklim mungkin berdampak pada probalilitas, tingkat keekstriman dan frekuensi bencana alam.
Contoh dampak langsung misalnya pemanfaatan hutan untuk kegiatan industri. Dengan berkurangnya luasan terbuka hutan maka akan berkurangnya serapan air di dalam tanah dan ini berkontribusi langsung terhadap terjadinya banjir.
Tetapi dampak tidak selalu harus langsung. Kenaikan suhu sedikit demi sedikit berdampak jangka panjang terhadap bumi. Kenaikan suhu ini disebut pemanasan global dan sumbernya adalah efek gas rumah kaca yang terjadi di bumi.
Efek rumah kaca merupakah istilah yang digunakan untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar (Vivi Triana, 2008).
Panas yang terperangkap di dalam atmosfer ini menyebabkan kenaikan suhu bumi yang pada akhirnya mencairkan gunung es dan menaikkan tinggi air permukaan laut.
Menurut Sabnis (2015) jenis Gas Rumah Kaca (GRK) terbanyak adalah CO2 sekitar 57% yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil, lalu CO2 sebanyak 17% yang dihasilkan oleh deforestrasi dan CH4 sebanyak 14%.
Sumber dari emisi GRK terbanyak berasal dari listrik dan panas (25%), lalu sektor pertanian dan tanah sekitar 20.5%. Bahkan dari laporan IPCC (2014) menyebutkan menyumbang 24% dari sector Agriculture, Forestry and Other Land Use (AFOLU), lebih besar daripada sektor transportasi yang berkontribusi 14%.
Semua kegiatan ini tentunya adalah kegiatan untuk menunjang kehidupan manusia di bumi. Yang artinya bisa menjelaskan tentang hubungan kegiatan manusia dan populasinya yang kita bertambah eksponensial dengan degradasi lingkungan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi frekuensi bencana alam.
MENYIKAPI PIDATO PRESIDEN
Seperti halnya terdapat pidato presiden pada Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) pada tanggal 2-3 Maret 2023, bahwa perubahan iklim yang ditakuti semua negara adalah penyebab naiknya jumlah bencana di dunia..
Presiden juga menyoroti bahwa kegiatan pra bencana lebih penting dan lembaga-lembaga penanggulangan bencana harus fokus dalam hal ini.
Terdapat 4 fase dalam manajemen kedaruratan yaitu fase mitigasi, fase kesiapsiagaan, fase tanggap darurat dan pemulihan. Kegiatan pra-bencana yang disebutkan oleh presiden bisa masuk ke dalam fase mitigasi dan kesiapsiagaan. Dalam konteks ekologi dapat dijabarkan sebagai upaya-upaya dalam menjaga lingkungan dan mengurangi dampak dari polusi lingkungan yang dapat menyebabkan perubahan iklim.
Ditilik dari prespektif ekologi, dimana faktor abiotik dan biotik saling berhubungan dan mempengaruhi, maka sudah sewajarnyalah manusia, sebagai makhluk yang paling berpengaruh di bumi, mempunyai andil dalam peristiwa-peristiwa iklim ekstrim.
https://tirto.id/penyebab-kebakaran-hutan-australia-yang-musnahkan-habitat-satwa-eqKp
FEMA
https://bnpb.go.id/berita/rakornas-pb-2023-berikut-tujuh-butir-arahan-presiden




Comments
Post a Comment