Sobat Safety Sapi Ungu,
Duluuuuu, waktu masih jadi junior di K3, pemahaman saya bahwa negara digjaya dengan Occupational Safety ya Amerika dengan OHSA nya, dengan Mine Safety and Health Administration (MSHA) nya, dengan NIOSH nya. Waktu (masih) jadi pemuda di pertambangan dulu, sertifikasi ASSE (American Society of Safety Engineer) menjadi dambaan. Yang akan terus jadi dambaan, karena sampai sekarang belum tercapai juga tuh sertifikasi.
Atau berkiblat pada UK dengan sertifikasi NEBOSH dan IOSH nya, sesuatu yang juga masih jadi impian saya sampai kini. Sertifikasi yang menjadi incaran praktisi K3, salah satu kertas yang dapat menjadi faktor pendukung jika ingin berkarir sebagai praktisi K3 di luar negeri.
Jepang? gak pernah dengar ada sertifikasi dan badan OHS yang terkenal dari Jepang. Teori yang paling mendekati adalah 5S (go-esu) yang diterjemahkan ke bahasa indonesia menjadi 5R: Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), dan Shitsuke (Rajin)
Para empu dan mbah-nya OHS juga bernama atau bermarga barat: Heinrich (teori domino), Bird (teori), Gibson (teori energi-damage), Reason (teori swiss cheese) dan lainnya.
Tapiii...saat di Jepang, semua terasa aman nyaman dan selamat.
Ternyata karena budaya!
5S ala Jepang itu cukup. Karena banyak insiden ternyata berasal dari ketidak rapihan (improper houskeeping) yang ternyata menjadi unsur di Seiton (rapi) dan Seiso (resik). Banyak juga insiden terjadi karena kegagalan mesin/ peralatan yang disebabkan dari kurangnya perawatan, alat rusak karena sudah tua, tidak mematuhi Preventive Maintenance, yang berarti ini berhubungan dengan aspek Seiketsu (rawat)
Tentunya banyak sekali insiden yang disebabkan oleh kelalaian manusia (human error) dan itu berhubungan dengan semua aspek S yang ada di 5S.
Dulu saya pernah merasa bahwa Jepang ketinggalan soal keselamatan. Pabrik-pabrik sebesar itu "cuma" terapkan 5S, tidak pakai sertifikasi K3 macam-macam.
Beberapa pabrik otomotif Jepang di kawasan industri saya kunjungi, dan terbukti lantainya bersih tidak ada tumpahan oli sedikitpun (padahal itu pabrik otomotif), sangat bersih (seiso). Tools ditaruh pada tempatnya, semua barang ada tempatnya (resik), ada labelnya. Pekerja masuk dan keluar sesuai jam yang ditetapkan (shitsuke).
Prinsip lead by example diterapkan betul. Saya (visitor) makan siang satu area di bangsal besar, bersama pekerja biasa dan juga manajemen. Para bos tidak berada di menara gading tinggi berjarak dengan pekerjanya.
Saat di Jepang saya melihat orang-orang berjalan dengan cepat tetapi tetap tertib. Tokyo Station sangatlah ramai, apalagi di jam-jam sibuk. Tapi tetap tertib padahal melayani 3-4 juta pengunjung setiap harinya, tapi saat saya di sana tidak pernah merasa chaos. Sibuk dan padat, iya. Tapi tidak pernah sampai kacau.
Jadi Jepang gak perlu banyak omon-omon tentang K3, karena mereka telah bernafas dan hidup dalam prinsip-prinsip K3.
Dieng, 2024

Comments
Post a Comment