TUGAS EKOLOGI LINGKUNGAN: AKTIVITAS PETERNAKAN SEBAGAI SALAH SATU PENYUMBANG GAS RUMAH KACA BERBAHAYA
PEMANASAN GLOBAL – PENYEBAB, DAMPAK DAN SOLUSI:
AKTIVITAS PETERNAKAN SEBAGAI SALAH SATU PENYUMBANG
GAS RUMAH KACA BERBAHAYA
1. PENDAHULUAN
Lembaga Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC) mengeluarkan laporan pada tahun 2021 yang salah satu poin pentingnya adalah jika dunia tidak dapat mengurangi laju pemanasan global sebesar 1.5 derajat selsius, maka bumi akan mengalami perubahan-perubahan alam yang dapat berdampak katastropik dalam kehidupan.
Penyebab dari kenaikan suhu bumi adalah terperangkapnya panas matahari di dalam bumi yang disebabkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) yang berfungsi layaknya selimut, sehingga panas matahari tidak dapat meninggalkan bumi.
Popular di masyarakat awam bahwa penyebab utama dan terbesar dari GRK adalah dari CO2. Hal ini benar namun tidak sepenuhnya tepat. Memang komposisi terbanyak adalah dari karbondioksida (CO2) sebedar 65%, namun CH4 sendiri dapat lebih berbahaya sebesaar 25 kali daripada CO2.
2. PENYEBAB PEMANASAN GLOBAL
Definisi singkat dari pemanasan global adalah suatu peristiwa meningkatnya suhu rata-rata di atmosfer, laut dan daratan bumi. Pemanasan global dimulai sejak sinar matahari sampai ke bumi lalu awan, partikel asmosfir, permukaan bumi dan laut memantulkan Kembali sekitar 30% dari sinar matahari (Riphah, 2015).
Peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFR) menjelaskan pemanasan global sebagai kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panas atau inframerah yang dipancarkan ke bumi oleh gas rumah kaca. Radiasi ini Kembali diabsorsi oleh karbondioksida, uap air, ozon, metana, dan gas lain yang terdapat di atmosfir dan diradiasikan Kembali ke permukaan bumi. Hal inilah yang menyebabkan suhu di permukaan bumi naik. Harus diingat bahwa ini sebenarnya secara natural proses ini adalah baik, dimana panas yang terperangkat tersebut baik untuk menjaga agar bumi tidak membeku dan kedinginan. Masalahnya terjadi saat konsentrasi gas rumah kaca meningkat secara buatan yang disebabkan oleh ulah manusia dan segala aktivitasnya.
Planet bumi telah mengalami peningkatan terbesar dalam satu abad terakhir. Antara 1996 dan 2006, temperatur rata-rata permukaan bumi bertambah antara 0.6 sampai 0.9 derajat selsius. Sangat sulit untuk memprediksikan atau memproyeksikan seperti apa konsekuensi dari pemanasan global di tahun-tahun mendatang. Hal ini dikarenakan fakta bahwa yang menyebabkan hujan, salju, badai dan naiknya permukaan laut tergantung dari berbagai factor yang tidak dapat diprediksi.
3. EFEK GAS RUMAH KACA
Proses pertukaran masuk dan keluarnya radiasi ini disebut efek rumah kaca karena cara
kerjanya mirip dengan rumah kaca. Dimana radiasi UV dengan mudah masuk ke dalam melalui dinding dan atap kaca. Sinar ini dibutuhkan dan diserap oleh tanaman untuk proses fotosintesis dan keberlangsungan hidup tanaman. Namun radiasi yang lemah yang dipantulkan Kembali tidak dapat menembus dan keluar dari rumah kaca, sehingga terperangkap dan digunakan Kembali untuk menghangatkan rumah kaca.
Efek rumah kaca merupakah istilah yang digunakan untuk panas yang terperangkap di
dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar (Vivi Triana, 2008).
Menurut Sabnis (2015) sumber GRK terbanyak adalah CO2 sekitar 57% yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil, lalu CO2 sebanyak 17% yang dihasilkan oleh deforestrasi dan CH4 sebanyak 14%.
Melihat chart di atas jelas tergambar bahwa penyebab utama tingginya gas rumah kaca adalah dari perbuatan manusia, terutama jika kita melihat porsi yang dari karbon dioksida. Penggunaan berlebihan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumi merupakan penyebab utamanya. Pembebasan lahan dengan menebang hutan juga termasuk salah satu sebab.
Di posisi kedua terbesar adalah CH4 yang merupakan gas alami. Metana diproduksi sebagai hasil dari aktivias pertanian seperti peternakan, pertanian padi dan pemakaian pupuk kendang. Metana juga diproduksi dari pengolahan sampah yang tidak baik.
Laporan IPCC tahun 2014 menyebutkan bahwa dari prespektif sector ekonomi bahwa penghasil AFOLU (Agriculture, Forestry, Other Land Use), yang di dalamnya termasuk sector peternakan sebesar 24%. Bahkan lebih besar dari sector transportasi yang hanya menyumbang 14% dari seluruh moda transportasi.
4. GAS METANA (CH4)
Gas dengan rumus kimia CH4 (metana) adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas. Metana yang masih murni tidak berbau, namun saat digunakan untuk keperluan komersial, biasanya ditambahkan sedikit aroma belerang/ sulfur yang berguna untuk mendeteksi kebocoran yang dapat terjadi pada kemasannya.
Menurut laporan IPCC, pada tahun 2010, kandungan CH4 di Arktik diperkirakan sebanyak 1850 nmol/mol. Jumlah ini 2 kali lebih tinggi jika dibandingkan sampai 400.000 tahun sebelumnya. Pada sejarahnya, konsentrasi metana di atmosfer bumi berkisar antara 300 dan 400 nmol/mol selama periode glasial/zaman es dan 600-700 nmol/mol pada periode interglasial. Level konsentrasi metana ini bahkan bertambah jauh lebih besar daripada penambahan karbon dioksida (Wikipedia).
Gas CH4 pada kadar yang tinggi dapat menyebabkan penurunan kadar O2 pada atmosfer bumi, sekitar 19,5%. Pada kadar yang lebih tinggi lagi CH4 dapat memantik kebakaran dan juga ledakan jika bercampur dengan udara.
Terhadap dampak pemanasan global gas CH4 mempunyai dampak kerusakan yang lebih hebat jika dibandingkan dengan gas CO2.
Hal ini dikarenakan gas CH4 dapat menangkap panas 25 kali lebih baik daripada gas CO2 (Vlaming 2008)
5. INDUSTRI PETERNAKAN DAN PERTANIAN
Gas rumah kaca yang diproduksi oleh industri peternakan adalah CH4 dan Nitrous Oxide
(N2O). Lalu darimana datangnya CH4 di peternakan? Kita ambil contoh sapi sebagai salah satu hewan ternak penghasil daging. Sapi termasuk hewan ruminansia dengan sistem pencernaan poligastrik. Sapi memiliki rumen, yang mana di dalamnya terdapat mikroorganisme yang berfungsi untuk memecah selulosa pada dinding sel tumbuhan sehingga nutrien dalam tumbuhan tersebut dapat dimanfaatkan untuk proses metabolisme sapi tersebut. Saat proses pemecahan selulosa terjadi, di dalam rumen terjadi fermentasi yang memproduksi gas CH4, kemudian dikeluarkan dalam bentuk gas buangan (kentut dan sendawa) serta dalam feses sapi (gc.ukm.ugm.ac.id 2017). Feses yang diolah, ditumpuk maupun disebarkan di lahan dapat melepaskan CH4 (Chadwick 2011). Selain itu CH4 juga dihasilkan dari pakan ternaknya sendiri.
Kegiatan peternakan memberikan sumbangsih sebesar 12% dari total emisi rumah kaca
kaca (Dourmad et al. 2008). Secara nasional kontribusi Gas Rumah Kaca dari sektor peternakan masih tergolong relatif rendah yaitu sebesar <1,5% dari total GRK nasional (Widiawati 2013).
Pada kasus di Ethiopia, sector pertanian menyumbang 45 % dari total emisi GRK (Waithaka, 2015). Sedangkan menurut penelitian Nurhayati didapatkan data bahwa kontribusi emisi GRK di Pulau Jawa sebesar 30.100,86 CO2-e Gg/tahun. Dengan Provinsi Jawa Timur merupakan penyumbang emisi terbesar yaitu sebanyak 37,15%, provinsi Jawa Barat sebesar 30,23% dan provinsi Jawa Tengah sebanyak 25,18%. Di antara semua jenis ternak, sapi potong merupakan kontributor utama yaitu sebanyak 38,49%, diikuti oleh domba sebesar 26,90%
Selain dari CH4 yang diproduksi oleh hewan ternak, peternakan juga menimbulkan masalah lain misalnya penggunaan lahan yang berlebihan, penggunaan air yang massif dan tidak berkelanjutan.
6. TANTANGAN
Seiring dengan semakin bertambahnya populasi dunia dan diiringi meningkatnya
pendapatan per kapita, permintaan dan konsumsi dari daging turut meningkat.
Daging merupakan salah satu bahan dasar dalam menu dan komposisi makanan di dunia, termasuk Indonesia. Masakan berbahan dasar daging dianggap berprotein tinggi, maskulin dan sehat.
7. SOLUSI
Pengurangan gas CH4 sebagai kontributor berbahaya Gas Rumah Kaca dapat dilakukan melalui berbagai usaha sebagai berikut:
1. Perubahan perilaku dan pengaturan komposisi menu yang lebih ramah lingkungan.
2. Produksi yang berkelanjutan dan penggunaan teknologi yang efisien.
3. Edukasi kepada peternak untuk:
a. Penggunaan pakan ternak rendah kandungan CH4. Misalnya menggunakan daun-daun hijau seperti tanaman gliricidia, leucaena dan kaliandra adalah tiga tanaman dari jenis leguminosa.
b. Meningkatkan kesehatan ternak dan terhindar dari penyakit hewan
4. Edukasi kepada masyarakat bahwa selain CO2 juga terdapat CH4 yang merupakan gas yang lebih berbahaya. Hal ini harus diinformasikan kepada masyarakat, agar mempunyai pengetahuan dan dapat diambil tindakan untuk mengurangi gas metana, selain mengurangi emisi dari karbondioksida.
8. KESIMPULAN
Gas metana (CH4) merupakan gas yang lebih berbahaya dibanding CO2. Walaupun konsentrasi di atmosfer jauh di bawah CO2 sebagai penyumbang gas rumah kaca. CH4 sebenarnya tidak berbahaya dalam konsentrasi normal, namun manusia dan kegiatannya mempercepat dan menambah kandungan gas CH4 di atmofer.
Diketahui ternyata produksi CH4 sebagian besar dihasilkan dari industri pertanian termasuk peternakan.
Harus dilakukan usaha-usaha lingkungan untuk mengurangi konsentrasi dan kadar CH4 di atmosfer untuk menurunkan suhu permukaan bumi.
9. DAFTAR PUSTAKA
1. Sabnis, Ajit (2015). Construction Materials-Embodied Energy Footprint-Global Warming; Interaction.
2. Waithaka, Michael (2015). Reducing green house emissions from the livestock sector: The case of Ethiopia
3. Umair Shahzad, Riphah (2015). Global Warming: Causes, Effects and Solutions
4. Dourmad, Jean-Yves (2008) Emission of greenhouse gas, developing management and animal farming systems to assist mitigation
5. Nurhayati. Emisi Gas Rumah Kaca dari Peternakan di Pulau Jawa yang Dihitung
dengan Metode Tier-1 IPCC
Website :
https://gc.ukm.ugm.ac.id/2017/07/isu-kegiatan-peternakan-sebagai-penyumbang-terbesar-pemanasan-global-dilema-antara-usaha-peningkatan-produktivitas-bahan-pangan-hewani-dan-gerakan-cinta-lingkungan/
http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/aksi/mitigasi/implementasi/303-mengurangi-emisi-gas-rumah-kaca-grk-melalui-pakan-ternak

Comments
Post a Comment