Sobat safety sapi ungu yang sehat walafiat,
Minggu kemarin seorang rekan baru saja dapat kaos keren dari perusahaan dengan tulisan besar di belakangnya "20 Million Safe Manhours without LTI". Barang kayak gitu biasanya disebut 'safety token' yaitu hadiah yang didapat dari pencapaian keselamatan kerja, salah satunya dari jam kerja selamat tanpa kecelakaan (safe manhours without incident).
Pasti tau dong guys, kalau statistik K3 itu penting bagi satu perusahaan. Statistik digunakan untuk mengukur sejauh mana usaha-usaha K3 berhasil mendukung program-program K3 perusahaan. Biasanya dikenal dengan leading dan lagging indicator.
Salah satu indikator yang diukur dan dicatat adalah kecelakaan kerja.
Beberapa perusahaan juga mengukur safe manhours. Safe manhours ini apa sih? Kira-kira penjelasannya, safe manhours adalah jumlah jam kerja yang sudah dicapai tanpa ada insiden kehilangan hari kerja (lost days).
Safe manhours dapat terhenti perhitungannya dan harus diatur ulang (reset) ketika ada insiden yang menyebabkan kehilangan hari kerja. Teman-teman tahu kan ada klasifikasi kecelakaan kerja yang disebut Lost Time Accident, Lost Time Incident atau Lost Time Injury (LTI) atau Days Away From Work Case (DAFWC). Definisi santainya adalah dimana suatu kecelakaan kerja dapat menyebabkan korban (IP: Injured Person) tidak dapat bekerja lagi pada giliran shift kerja berikutnya.
Dalam suatu proyek safe man hours kerap kali digunakan sebagi satu milestone. Suatu pencapaian (achievement) saat satu perusahaan atau proyek telah mencapai 1 juta jam kerja selamat misalnya.
Sangat baik bagi perusahaan untuk mengetahui kinerja K3 perusahaan secara terukur. Dan pencapaian K3 adalah sesuatu yang harus diselebrasikan sebagai kerja kolektif dari semua orang. Peran setiap orang dari manajemen sampai pekerja terdepan dihargai dengan perayaan dan juga hadiah/ token.
Namun kadang tujuan perusahaan jadi teralihkan karena safe manhours menyangkut reputasi suatu perusahaan atau reputasi dari tim K3 di perusahaan tersebut.
Manajemen satu proyekpun akan bersaing dengan proyek lain.
Ada pemikiran bahwa saat safe manhours harus di atur ulang maka reputasi akan terancam.
Saya teringat bahwa mantan bos pernah bilang sesuatu yang tidak pernah saya lupa: Perhitungan safe manhours sebenarnya tidak menjamin bahwa perusahaan tidak akan mengalami kecelakaan kerja yang serius.
Bisa saja perusahaan yang sudah meraih 50 juta safe manhours bulan ini, namun mengalamami fatality (insiden kematian) bulan depan.
Saat itu saya masih bekerja di perusahaan migas multinasional besar. Saya jadi mengerti konsep dan prinsip K3 yang diembannya.
Yang ditakutkan adalah manajemen bisa terlena dengan prestasi sehingga malah mengejar reputasi semata. Jika perusahaan mengalami LTI maka perusahaan akan mendapatkan nama jelek. Atau manajemen K3 tercoreng namanya.
Ekses buruknya adalah pekerja atau tim kerja menyembunyikan kecelakaan kerja yang dialami. Dapat juga pada saat investigasi terdapat ketidakterbukaan pada saat wawancara saksi. Dan pihak manajemen juga mempertimbangkan untuk melaporkan insiden-insiden yang besar atau bahkan menurunkan tingkat keparahan insiden. Misalnya yang seharusnya LTI menjadi 'hanya' Work Restricted Case (WRC) atau Medical Treatment Case (MTC).
Apakah ada? Percayalah hal itu sangat mungkin dan saya mengalaminya sendiri.
Hal ini sangatlah kontra produktif dan yang paling parah adalah bahaya laten yaitu pengaruh terhadap safety culture secara keseluruhan.
Begitulah saat manusia hanya sekedar angka.

Comments
Post a Comment