Sobat Safety sapi ungu,
Kancah mahabarata yang dilakoni oleh progess atau produksi melawan safety adalah kisah klasik. Pertarungan antara dua kelompok saudara dalam satu keluarga ini telah dan akan berlangsung terus. sama saja seperti speed vs safety atau cost vs safety atau efisiensi vs safety.
Tampaknya safety memang banyak 'musuhnya' ya.
David Cameron, PM Inggris 2010-2015, pada tahun 2012 pernah berkata: I will kill off safety culture.
Wow, shocking. Para instansi HSE di Inggris pasti terhenyak. Dan para pebisnis bersorak dalam hati.
Kayaknya opa David waktu itu sedang kesal betul karena biaya tinggi HSE yang dikeluarkan oleh industri dan regulasi tentang HSE yang sangat mencekik para pebisnis di Inggris.
https://www.independent.co.uk/news/uk/politics/david-cameron-i-will-kill-off-safety-culture-6285238.html
Satu istilah lagi yang bikin nyesek adalah opa David menyebut HSE sebagai "monster". Salah satu yang kaget adalah Richard Jones, head of policy and public affairs at the Institution of Occupational Safety and Health.
Cerita ini akan terus seperti anjing mengejar ekornya. Manajemen K3 yang buruk akan mengakibatkan kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja akan membuat perusahaan mengeluarkan banyak biaya, termasuk tuntutan dari pekerja. Untuk mencegahnya diterapkanlah sistem manajemen K3, yang pasti mengeluarkan banyak biaya. Jika terjadi kecelakaan kerja besar biasanya sampai mengakibatkan proyek terhenti sementara. Baik untuk investigasi maupun untuk melakukan tindakan-tindakan perbaikan. Artinya ada biaya lagi saat stand-down atau stand-by nya pekerjaan.
Belum lagi biaya yang dibutuhkan untuk membeli peralatan dan perlengkapan safety, alat pelindung diri, dokumen, SDM dan konsultasi.
Sobat, safety memang kerap dinilai lebay (berlebihan) ketika dinilai sudah menghambat perkembangan proyek, menahan produksi, memperlambat kemajuan dan mengeluarkan biaya yang cukup besar.
Dulu saat masih menjadiseorang engineer, bosa saya pernah menyarankan kami untuk mengerti juga aspek bisnis (sales & marketing) dari suatu produk. Saat itu saya menolak karena saya tidak tertarik dengan sisi bisnis sutu produk. Kini saya mengerti.
Comments
Post a Comment