Heboh tagar #indonesiagelap #kaburajadulu dari ESG

Seiring dengan ramainya tagar #indonesiagelap dan #kaburajadulu, dunia, terutama praktisi ESG (environmental - Social - Goverenment) saat ini juga merasa dunia agak "gelap". Terlebih setelah keputusan Presiden Trump yang telah mengeluarkan kebijakan tentang US keluar dari Paris Agreement (lagi) artinya amerika tidak mempedulikan tentang naiknya temperatur bumi, yang harus dijaga naiknya di bawah 1,5 derajat selsius.

Trump bilang "drill, baby drill" dan bilang renewable energy masih kemahalan, pembangkit listrik tenaga angin memakan biaya tinggi dan tidak dapat diandalkan, jadi mari kembali ke minyak dan gas bumi.

Sudah dapat diduga, dampak bola salju pastinya. Raksasa migas Inggris, british petroleum (bp) yang mengalihkan investasi energi terbarukannya kembali ke migas. Padahal sekitar 20 tahun  lalu, bp sudah mengubah akronimnya menjadi "beyond petroleum" karena visi transisi energinya dari energi fosil ke energi bersih.
Pemain migas lain, Shell, pada Januari 2025, menarik diri dari investasi 1 milyar USD pada proyek offshore Atlantic Shore wind energy nya di New Jersey. Mengikuti turun 8% nya investasi pada energi terbarukan.
Apa alasannya mereka #kaburajadulu dari energi terbarukan?
Katanya sih karena low return yang mereka dapat dari bisnis energi bersih ini serta modal yang masih tinggi dengan keuntungan yang masih belum dapat dijamin.

Di dunia finansial, HSBC memperlambat target net zero mereka dari 2030 menjadi 2050. Pada industri ini, efek bola salju  sudah menggelinding. Pada Desember 2024 bahkan 6 bank besar US sudah menyatakan menarik keanggotaan dari Net Zero Banking Alliance (NZBA) yaitu Citigroup, Morgan Stanley, Bank of America, Wells Fargo dan Goldman Sachs. 

Indonesia bagaimana, apakah gelap juga?

Utusan presiden bidangg iklim dan energi, yang juga adik presiden, Hasim Djojohadikusumo menanggapi soal US keluar Perjanjian Paris adalah "tidak adil". US yang menghasilkan emisi sebesar 13 ton karbon per kapita per tahun, sementara China menghasilkan 7 ton dan Indonesia hanya 3 ton per kapita.

Ketika kedua negara raksasa saja tidak mengindahkan perjanjian iklim, kenapa Indonesia harus repot. Pak menteri Bahlil juga sempat bilang bahwa pensiun dini PLTU akan mandek, karena terkendala biaya. Dan Indonesia masih bergantung pada PLTU sehingga Pensiun dini PLTU pun tidak termasuk dalam RUPTL 2025-2034.

Mungkin Indonesia memang bakalan masih gelap karena langitnya tertutup asap PLTU.

Setidaknya dalam 5 tahun terakhir brand ESG memang begitu kuat. Tadinya sangat sulit memasukkan topik ESG ke dalam pembicaraan para eksekutif perusahaan, namun sekarang menjadi salah satu bahasan penting di dalam ruang-ruang rapat direksi dan komisaris. Seolah-olah tidak ingin ketinggalan dicap "green", bahkan sampai menimbulkan kekhawatiran "green washing" oleh perusahaan saking inginnya mendapat label perusahaan peduli dan ramah lingkungan.

Pada satu pertemuan seminar, seorang perwakilan dari jasa keuangan juga meminta regulator untuk "pelan-pelan pak supir", karena begitu derasnya arus kebijakan, peraturan dan standar yang harus dicerna dan ditelan dalam waktu singkat. Seperti pelaporan keberlanjutan, transisi, nature-related, TCFD, TNFD, Taksonomi hijau, taksonomi keuangan berkelanjutan indonesia dan masih banyak lagi.

Apakah mungkin bubble itu telah pecah? Euforia ESG mulai berakhir dan grafik itu mulai menurun? Apakah kita terlalu cepat, sehingga beradaptasi pun sulit?


Pondok kelapa,

Maret 2025




Comments